Memberi makan orang berpuasa

Rasulullah s.a.w bersabda “Orang yang memberi makan dan bersyukur kepada Allah, tarafnya sama dengan orang yang berpuasa.

memberi makan dan bersyukur

Bersyukur kerana Allah beri peluang kita dapat pahala. Dalam al-quran dinyatakan, sembah Allah dan bersukurlah kerana Allah beri kita peluang boleh menyembahnya:-

Al-Ankabut [17] ….dan sembahlah akan Dia, serta bersyukurlah kepadaNya;

Ramai orang sembahyang dan puasa tapi lupa bersyukur kepada Allah. Allah berperanan di belakang sehingga kita boleh sembahyang dan puasa.

Orang yang beri makan (khasnya kepada orang yang berpuasa) dan bersyukur macam orang yang berpuasa pahalanya. Sepertimana orang yang tunjuk jalan ke arah kebaikan diberi pahala kebaikan yang dilakukan orang lain.

Dalam hadith yang lain, siapa yang berpeluang dia diampunkan dosa dan dimasukkan ke dalam syurga. Sahabat bertanya “siapakah orang itu?. Jawab Nabi “‘orang yang beri makan orang berpuasa”. Allah ampun dosa orang yang beri makan orang berpuasa. Seteguk susu atau sebiji buah kurma pun sudah cukup untuk dapat kelebihan.

Siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa , pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya .”Berkata sahabat : Bagaimana jika kami tidak dapat memberi makan orang yang berpuasa ( berbuka puasa ) ya Rasulullah ? Nabi bersabda : “ Allah memberi pahala kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma , atau segelas air.

Audio: http://nasbunnurain.multiply.com/music/item/228/Kelebihan_Ramadhan

About these ads
Dikirim dalam Fadhilat, Hadith, Puasa. 14 Komen »

14 Respons bagi “Memberi makan orang berpuasa”

  1. palangkaraya2008 Says:

    Mengakali Pahala
    Saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:
    Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

    Eksperimennya berjalan seperti ini.
    Suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. Saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. Tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Dia orang mampu, bukan orang yang berpuasa–seperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itu–karena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola).

    Dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. Kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. Ah, kesempatan baik. Kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? Disiplin tidak punya. Ketulusan relijius tidak terpelihara. Niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. Tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. Alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.

    Jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini.

    Menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala ‘murah meriah’ pada saat azan magrib berkumandang. Buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. Sebagai seorang ‘investor pahala’ tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. Ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. Blarrr! Dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. “Ada apa?” katanya. “Jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya? Lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.

    Lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa dengan taktik ‘menghindar’ adalah puasa anak TK, puasa for beginner, menurut saya. Saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.

    Lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan VCD porno. Murni hanya sebagai tantangan. Buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. Film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. Kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.

    Teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, “Kamu kan tahu saya sedang berpuasa….” Saya jawab, “Tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji.” Dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat Ashar di kamar saya.

    Matahari makin menggelincir ke barat. Tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. Mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.

    Akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. “Jangan,” kata saya, “kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya.” Lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. Dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. Saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.

    Lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. “Lho….” dia terheran-heran. Mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. Saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).

    Saya diam saja. Lalu di parkiran warung, saya katakan, “Kamu kan sudah makan, sudah ‘isi bensin’, gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot.”

    Masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. Lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.

    “Bajingan!” Itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.

    “Tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari Nabi. Saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya….” demikian saya berupaya membendung kekesalannya.

    “Modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama.”

    “Lho, tapi kan saya ikhlas. Kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. Saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa.”

    “Gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja.”

    “Nggak bisa! Mending dapet pahala daripada duit. Duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang.”

    “Brengsek. Lu emang kapitalis curang. Pahala dikira dagangan apa?”

    “Ape kate lo aje deh.”

    Nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan TV, sampai tiba waktunya sahur lagi. Dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. Mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.

    Saya juga tidak terlalu peduli. Jaminan Nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.

    • sulaiman Says:

      Adalah tidak wajar untuk sengaja menguji seseorang dengan maksiat dengan tujuan meningkatkan pahalanya.

      Memutarkan VCD porno haram hukumnya, bagaimana hendak dapat pahala..

      • palangkaraya2008 Says:

        Ah ya biar tho, kalo cuma soal wajar atau tidak wajar: sengaja menguji seseorang dengan maksiat untuk meningkatkan pahala. Coba bayangkan, untuk menguji nabi Ibrahim, Allah Swt saja menyuruhnya menyembelih anaknya sendiri. Ini bisa menyebabkan nyawa melayang, nyawa anak lagi? Ini menguji dengan pembunuhan, kejahatan. Apa ini wajar? Nah, saya belajar dari Allah Swt. Saya menguji cukup dengan maksiat saja, yang tidak akan membawa korban nyawa.

        Memutar VCD porno haram. Tapi ingat juga, ina amalu bi niyah. Semua nilai perbuatan tergantung niat-nya. Kalau untuk niat yang baik, gimana?

        Okelah dosa. Saya tanggung dosanya nggak pa-pa. Asal jadi pahala puasa yang besar, asal begitu berbuka puasa, saya yang bayar, pahala yang besar itu jadi milik saya.

        Saya gambling sedikit nih. Kalau ternyata kawan saya tergoda lalu masturbasi sampai ejakulasi, sehingga batas puasanya, sehingga saya tidak kebagian pahala waktu berbuka, wah rugi saya. Tapi untungnya teman saya ini tabah, kuat, dan meneruskan puasanya. Saya memang mengenal dia dengan baik.

        Ada juga cerita mengenai matematika pahala dosa yang bisa kita cermati. Ada di sini: http://prambanan.multiply.com/reviews/item/29

        Ini maksud saya, agama dipandang dari sudut pandang kritis. Kalau misalnya Anda suka berpikir sederhana saja, yang lurus-lurus saja, kalau Anda tidak cukup kritis atau kreatif, atau tidak suka bermain-main, ya sudah lah. Hiduplah di jalan yang benar. Jauhi orang seperti saya. Nanti rusak pikiranmu. Ya kalo bisa menemukan jalan yang lempang dari situ. Kalo malah jadi edun…. Siapa yang mau tanggung jawab?

      • sulaiman Says:

        Perbuatan tergantung niat-nya, tetapi niat tidak menghalalkan cara.

        Niat yang baik tidak menghalalkan cara, misalnya merompak untuk memberi sedekah, tetap tidak diterima kerana “Allah itu bersih, Allah tidak terima amalan dari sumber yang kotor”.

        Berfikir secara kritis tidak bermakna kita menepikan halal dan haram. Apakah Allah tidak berfikir dengan kritis semasa dia menurunkan wahyu al-quran dan hadith.

  2. palangkaraya2008 Says:

    Lantas bagaimana dengan Fulan si Robinhood (http://prambanan.multiply.com/reviews/item/29) yang mencuri untuk beramal? Yang mencuri makanan dan roti untuk dibagikan kepada orang miskin dan kelaparan? Yang mendasarkan perbuatannya pada “Berbuat baik mendapat pahala 10, berbuat jahat mendapat dosa 1.”

    Bukankah mencuri dosa? Bukankah menolong orang yang kelaparan perbuatan baik? Bukankah Fulan masih mendapat 9 pahala?

    Niat tidak menghalalkan cara? Coba pikir lagi deh, apa betul itu? Bagaimana dengan niat yang luar biasa keras dan harus dicapai dengan segala cara? Entah untuk menegakkan keadilan, entah berperang untuk kemerdekaan dari penjajahan dan ekpolitasi yang memperbudak, entah untuk merusak cafe yang masih buka di bulan Ramadhan, entah untuk memukuli pendukung Ahmadiyah di lapangan monas.

    Betul Allah tidak menerima amalan dari sumber yang kotor. Pertanyaan saya, apakah Allah tidak menerima amalan dari HATI yang bersih, sekalipun melalui perbuatan yang–terpaksanya–agak sedikit kotor.

    Apakah halal dan haram tidak ditetapkan melalui tafsir, melalui interpretasi, melalui bahasa, melalui pikiran kritis? Semisal, kapan orang boleh makan babi ketika kelaparan? Misalnya di suatu tempat, hanya ada babi yang bisa dimakan, tidak ada sayur, misalnya. Selapar apa, separah apa kondisinya, baru seseorang dihalalkan–pada akhirnya–untuk makan babi. Ini contoh yang tidak terlalu baik, sebab pada kenyataannya tidak ada kondisi seperti ini di bumi, jarang sekali kalaupun ternyata ada. Tapi masalahnya, kapan manusia boleh menetapkan suatu kondisi sebagai daruroh/darurat=suatu keadaan ketika hukum boleh dilanggar.

    Atau mengenai bunga bank? Riba? Haram kalau bunganya mencekik dan menyengsarakan peminjam sehingga ia terjerumus ke dalam utang abadi dan kemiskinan? Seberapa tinggi bunga bank dapat disebut riba dan haram? Seberapa rendah bunga bank tidak masuk dalam riba dan halal?

    Semua bunga bank haram? Hanya bank syariah yang halal? Apa bedanya persisnya antara bagi hasil syariah dengan bunga bank konvensional? Bukankah bunga bank–seperti juga dividen saham–pada dasarnya adalah bagi hasil? Bukankah bank syariah dikembangkan (justru) dari stuktur dan mekanisme bank konvesional modern; baru kemudian ke dalamnya dicangkokkan nilai-nilai Islami–bukan sebaliknya?

    Karena saya hanyalah awam di bidang ekonomi riba atau ekonomi Islam, saya mohon penjelasan mengenai ini.

    Mengenai pertanyaan Anda, apakah Allah tidak berfikir kritis semasa dia menurunkan wahyu Al-Quran dan Hadith, saya kira begini:
    1) Allah tidak menurunkan Hadith. Hadith berasal dari perilaku, perbuatan, dan ucapan Nabi Muhammad yang dicatat oleh para perawi.
    2) Saya tidak tahu apakah Allah berpikir kritis atau tidak. Saya tidak pernah mengerti jalan pikiran dan maunya Allah. Setiap kali saya bertanya, semua orang menjawab, “Pasti ada tujuan dibalik semua bencana yang dibuat Allah” atau “Allah merencanakan semuanya dengan baik, hanya kita saja yang tidak pernah mengerti” atau “Allah bekerja dengan cara yang sangat misterius.”

    Apakah Allah berpikir kritis ketia menurunkan wahyu?
    Apakah Allah berpikir kritis sama sekali?
    Wallahu alam. Hanya Allah yang tahu–di sini ‘wallahu alam’ menjadi sangat bermakna.

    Tapi barangkali bisa saya beri sedikit gambaran, bagaimana Allah memperlakukan ‘seseorang’ yang berpikir kritis:

    QS 2:30
    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
    “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
    Mereka berkata: “Mengapa yang Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
    bumi itu mahluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah,
    padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
    Engkau?”

    Tuhan berfirman:
    “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Dengan kata lain, sebetulnya Allah menghardik malaikat–yang memang sedikir bernada iri–dengan jawaban kurang lebih, “Tahu apa kalian?” Atau dalam bahasa Inggris, kira-kira bunyinya, “Chill out! I know what I’m doing.”

    • sulaiman Says:

      Mungkin saudar tidak baca artikel itu sampai habis. Di hujungnya Imam Ja’far berkata ” Wahai fulan, kalau agamamu kau perlakukan seperti itu , maka rusaklah agama ini.

      Bahkan ibadat haji dari duit yang haram pun tidak diterima:

      Apabila seorang anggota jamaah haji berangkat dengan harta haram dan mengenjakkan kaki di kenderaannya kemudian dia membaca Labbaik allahumma labbaik, maka ada suara (jawaban) dari langit: “Tidak ada labbaik dan tidak ada sa’daik (kebahagiaan) bagimu kerana bekalmu haram, kenderaanmu haram, hajimu penuh dosa, tidak diterima (tertolak)

      Robin Hood itu kafir, mana ada pahalanya. Amalan kafir itu umpama debu berterbangan.

      Furqan [23] Dan Kami tujukan perbicaraan kepada apa yang mereka telah kerjakan dari jenis amal (yang mereka pandang baik), lalu Kami jadikan dia terbuang sebagai debu yang berterbangan.

      Kalau hati baik, maka luaran (amalan, perangai dan pakaian) pun baik kerana setiap amalan itu lahir dari hati.

      Ketahuilah, bahawa di dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, yang bila ianya baik maka baik seseorang itu, dan apabila buruk, buruklah amalan seseorang itu, ketahuilah, ia adalah hati” (Riwayat Muslim)

      Wahyu terbahagi kepada dua 1. Yang dibaca (Al-Quran) 2. Yang tidak dibaca (Hadith)

      An-Najm [3] Dan dia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri.[4] Segala yang diperkatakannya itu (samada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

      Allah yang menetapkan darurat itu:
      Al-Baqarah [173] Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

      Riba dan dividen adalah dua perkara berbeza. Riba telah ditetapkan kadarnya. Dividen saham atau pembahagian keuntungan cuma diketahui setelah selesai perniagaan.
      Dividen diberi hasil dari perniagaan. Allah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba.

      Baqarah [275] Orang-orang yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri betul melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk Syaitan dengan terhuyung-hayang kerana sentuhan (Syaitan) itu. Yang demikian ialah disebabkan mereka mengatakan: Bahawa sesungguhnya berniaga itu sama sahaja seperti riba. Padahal Allah telah menghalalkan berjual beli (berniaga) dan mengharamkan riba.

      Manusia mengeluarkan hukum berdasarkan wahyu Allah, Al-Quran dan Hadith.

      Allah suruh fikir tentang ciptaannya. Saudara menyuruh manusia berfikir tentang formula dosa dan pahala. Saudara menyuruh buat baik dan jahat dalam satu masa. Adakah saudara pasti amalan saudara diterima? Bagaimana kalau amalan itu tidak diterima kerana terdapat riak atau perkara yang membatalkan amalan itu. Lantas tiada pahala, yang tinggal cuma dosa aja dong.

      Dalam bahasa Inggerisnya “How sure are you that there will be surplus of the rewards after you take away the sin?

      • palangkaraya2008 Says:

        Mungkin saudara tidak baca komen di bawah artikel itu sampai habis, ada komen yang saya sepakati berbunyi begini, “Dan dugaan Jafar, nyatanya tidak terbukti. Pada akhirnya agama rusak bukan karena perbuatan Fulan.”

        Anda katakan, “Bahkan ibadat haji dari duit yang haram pun tidak diterima”

        Bagaimana kita tahu duit yang kita terima haram atau tidak? Antara hitam dan putih sih jelas, misalnya hasil ngerampok, hasil korupsi atau menjual kewenangan dan jabatan publik di luar kepentingan publik, itu sih kelihatan jelas haramnya. Tapi yang kecampur-campur sedikit, gimana? Dari ‘sedikit memeras’ buruh, misalnya, dari tidak membayar upah lembur atau ekstra/bonus, misalnya. Dari honor ikut kampanye, terima order sablon kaos, atau spanduk cagub/cabup/capres walaupun kita tahu calon itu koruptor atau pelanggar HAM, misalnya?

        Jadi yang amalannya diterima atau tidak diterima itu dilihat kadar kehalalan uangnya atau diliat kebersihan HATInya? Hati, sekali lagi hati, di mana niat berumah.

        Anda katakan, “Apabila seorang anggota jamaah haji berangkat dengan harta haram dan mengenjakkan kaki di kenderaannya kemudian dia membaca Labbaik allahumma labbaik, maka ada suara (jawaban) dari langit: “Tidak ada labbaik dan tidak ada sa’daik (kebahagiaan) bagimu kerana bekalmu haram, kenderaanmu haram, hajimu penuh dosa, tidak diterima (tertolak)””

        Saya sih belum haji, jadi saya tidak tahu soal itu. Tapi ayah saya pergi berhaji bersama seorang koruptor (sesudah pulang haji ia mendekam di penjara karena kasus korupsi) dan juga bersama seorang penggelap pajak. Sepanjang perjalanan Ayah saya tidak pernah mendengar suara seperti itu dari langit, juga ketika para koruptor itu membaca labbaik allahuma labbaik. Begitu pula sang koruptor dan sang penggelap pajak tidak mendengar jawaban apa-apa dari langit, juga tidak mendapatkan tanda-tanda apa-apa selama berhaji. Ibadah haji mereka berjalan mulus-mulus saja, apalagi mereka itu kan rombongan VIP ONH Plus. Biar bayarnya pakai uang hasil korupsi, asal hajinya mewah, tidak makan sekardus indomie seperti Ayah saya yang haji biasa.

        Ayah saya sempat heran, biaya haji di Indonesia muaaaahhhaaallll sekali, tetapi pelayanannya luar biasa buruknya, dibandingkan peserta haji dari negara manapun di dunia. Ayah saya heran, biaya haji ini dipakai apa saja? Kenapa konsumsinya hanya sekardus mie instan? Kenapa, haji dari Malaysia, yang biayanya lebih murah, makannya bisa nasi rendang? Ini mengherankan, jangan-jangan bukan hanya orang yang berhaji yang bisa pakai uang hasil korupsi, tetapi jangan-jangan para penyelenggara haji juga ikut korupsi tanpa perlu berhaji.

        Nah, yang seperti ini yang saya maksud yang merusak agama. Bukan perbuatan seperti si Fulan sang Robin Hood yang berusaha mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan yang dilakukannya dengan cara seorang sufi. Cara yang lugu. Cara yang cerdas.

        Anda bilang, “Robin Hood itu kafir, mana ada pahalanya. Amalan kafir itu umpama debu berterbangan.”

        Pertama-tama, yang kita bahas adalah Fulan dalam cerita. Robin Hood disebut di situ hanya sebagai julukan.

        Kedua, bagaimana mungkin Anda tahu apakah Robin Hood itu kafir atau tidak? Mana kita tahu kalau di hati Robin Hood terdapat keIslaman yang seIslam-Islamnya, ada keimanan yang sekuat-kuatnya iman, ada ketaqwaan, setaqwa-taqwanya? Siapatah tahu isi hati orang? (Terutama kalau Anda nonton film Robin Hood versinya Kevin Costner yang lagunya “looking to my eyes… ” Bryan Adams itu, temannya Robin Hood–diperankan Morgan Freeman–kan Islam, sama-sama berjuang melawan kemunkaran Sherrif of Nottingham. Siapa tahu Robin Hood menyerap ajaran Islam dari Morgan Freeman itu. Mana kita tahu? Apa Anda tahu persis?

        Ketiga, agama fisik, agama ktp, agama yang dipraktikkan bisa apa saja. Tapi hati bisa sepenuhnya islam, beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Begitu pula dengan orang yang ktpnya, fisiknya, Islam, yang rajin bersahadat sehari-hari, yang tubuhnya tak lepas dari shalat dan puasa, bisa saja hatinya sama sekali tidak Islam, tidak beriman, tidak bertaqwa. Bisa saja hatinya penuh kemunafikan, ria, suka melanggar HAM, dan korupsi. Korupsi uang haji lagi. Uang petani miskin dari pelosok yang susah payah dikumpulkan selama puluhan tahun. Bayangkan! Sudah jauh-jauh sampai Mekkah, disuruh makan mie instan sekardus, padahal uang yang dibayarkannya bisa untuk bayar nasi rendang daging dan lalap singkong sambal hijau yang paling lezat.

        Islam, Iman, Taqwa adalah urusan hati. Bukan urusan ktp bukan segala urusan fisik. Bahkan mungkin saja orang beriman, dan bertaqwa bukan hanya dengan menganut agama lain, tetapi juga tanpa harus percaya Tuhan.

        Anda mengutip Al-Quran:
        “Kalau hati baik, maka luaran (amalan, perangai dan pakaian) pun baik kerana setiap amalan itu lahir dari hati.”

        Lha iya. Dari hati yang bersih datangnya pahala. Baik dari hati yang bersih milik orang Islam maupun milik orang kafir.

        Saya yakin Allah Swt memasukkan orang-orang berhati bersih ke dalam surga, sekalipun secara fisik mereka tidak pernah memeluk agama Islam. Kalau Tuhan menuntut ukuran fisik keIslaman sebagai syarat masuk surga atau syarat mendapat pahala, ya saya tidak mau menyembah Tuhan seperti itu.

        Anda juga mengutip “An-Najm [3] Dan dia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri.”

        Jadi menurut kemahuan dan pendapat siapa lagi kalau bukan datang dari sendiri? Kalau memperturuti kemahuan dan pendapat alim ulama saja, tapi hati tidak memeluk, itu namanya kita menjalankan agamanya alim ulama, dan untuk mereka. Bukan untuk diri sendiri. Ini ria yang sering tidak disadari. Kita puasa, kita shalat, kita beribadah untuk Allah Swt semata, bukan untuk alim ulama. Di mana kita menemukan Allah? Ya di hati kita sendiri. Itu sebabnya hati kita, dibungkus badan, dilengkapi pikir. Pikiran kritis untuk berdialog dengan Allah di dalam hati kita.

        Anda juga mengutip, “Al-Baqarah [173] Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

        Saya sepakat bahwa pada keadaan darurat/daruroh, yang halal bisa jadi haram. Lalu, bagaimana kita menentukan kapan saatnya daruroh? Pakai pikir siapa? Pikir kita sendiri bukan?

        Anda mengatakan, “Riba dan dividen adalah dua perkara berbeza. Riba telah ditetapkan kadarnya. Dividen saham atau pembahagian keuntungan cuma diketahui setelah selesai perniagaan. Dividen diberi hasil dari perniagaan. Allah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba.”

        Betul begitu, tapi bukankah bunga bank, atau riba, juga pada dasarnya adalah rata-rata keuntungan perniagaan/hasil usaha? Yang riba jaman Nabi, jaman Al Quran diwahyukan ‘kan bukan suku bunga sebagai instrumen ekonomi seperti hari ini? Begitu bukan? Yang bunga bank, yang suku bunga bank sentral itu apa sama dengan riba jaman nabi? Ketika Nabi dan Al Quran berbicara mengenai riba, pada dasarnya yang dibicarakan adalah bunga uang yang mencekik, jauh sebelum umat manusia hidup dalam sistem ekonomi yang perdagangannya harus selalu menghitung tingkat inflasi. Itu sebabnya ada bunga.

        Bahkan bunga suku bunga bank sentral ditentukan negara. Ketika bunga/riba menjadi instrumen ekonomi, bagaimana lagi ini hukumnya? Bukankah nah itu tadi pertanyaan saya, pada dasarnya riba adalah rata-rata keuntungan perniagaan yang kebetulan cara menghitungnya lebih rumit daripada bagi hasil bank syariah. Tapi pada dasarnya kan sama aja barangnya itu-itu juga.

        Begitu juga dengan dividen yang sah dan halal. Dividen perusahaan apa dulu nih? Cara menghitungnya bagaimana? Kalau Nike, yang buruhnya dibayar luar biasa murah, sementara para investornya kuaya ruaya luar biasa, bagaimana? Apakah masih halal? Dividen/bagi hasil keuntungan saham perusahaan Enron, yang dari menggelembungkan nilai perusahaan, semacam korupsi begitu, apa masih halal?

        Kalau perusahaan kapitalis dan pasar modal memang halal, mengapa bukan keadilan yang tercipta di dunia ini? Mengapa dunia dengan pasar modalnya yang pada dasarnya berjualan dividen malah semakin mirip dengan dunia penjajahan yang jahiliyah? Itu sebenarnya pertanyaan saya.

        Anda katakan juga, “Manusia mengeluarkan hukum berdasarkan wahyu Allah, Al-Quran dan Hadith.”

        Wahyu Allah di Al-Quran yang mana, hadith yang mana, yang ditafsir oleh siapa? Itu kan pertanyaan saya. Terlalu banyak orang menggunakan tafsir untuk kepentingan golongan atau pribadi, atau untuk kekuasaan atau untuk penindasan. Itu sebabnya, setiap tafsir agama harus selalu dicross-check dengan hati nurani dan pikir kita sendiri. Ke hati kita yang bersih. Ke nurani. Karena di situlah, pada suatu masa, Allah telah meniupkan sebagian dari RuhNya.

        Anda katakan, “Allah suruh fikir tentang ciptaannya.”
        Saya agak kurang paham dengan kalimat ini.

        Anda katakan, “Saudara menyuruh manusia berfikir tentang formula dosa dan pahala. Saudara menyuruh buat baik dan jahat dalam satu masa.”
        Saya tidak suka menyuruh-nyuruh. Saya tidak suka kasih perintah. Saya bukan pemerintah, saya bukan nabi, saya bukan Allah. Saya hanya seorang netter yang sedikit kurang kerjaan dan tergelitik dengan tema diskusi di halaman web ini.

        Anda katakan, “Adakah saudara pasti amalan saudara diterima? Bagaimana kalau amalan itu tidak diterima kerana terdapat riak atau perkara yang membatalkan amalan itu. Lantas tiada pahala, yang tinggal cuma dosa aja dong.”

        Jawab saya, mana saya tahu apakah pasti amalan saya diterima. Bukan urusan saya. Urusan Allah semata. Prek. Saya tidak peduli. Apakah diterima? Ya sukurlah kalau diterima. Apakah ditolak karena ada riak, dan tinggal dosa aja dong? Saya tidak peduli sama sekali. Biar Allah semata yang menilai.

        Terus terang saja, kalau saya berbuat baik, itu karena hati saya, pikir saya, menyeru begitu, karena saya percaya sebagian Ruh Allah yang ditiupkanNya, yang tersisa di hati saya, menyeru begitu. Saya tidak butuh iming-iming surga yang di dalamnya mengalir sungai arak dan janji hadiah ribuan perawan. Saya tidak butuh itu semua.

        Anda katakan, “Dalam bahasa Inggerisnya “How sure are you that there will be surplus of the rewards after you take away the sin?”

        I could only say, “How the hell should I know?” But I love people like Fulan who daringly took the risk.

        Also, personally, to do good, if I have to, I’ll take the risk. To hell with the hell. Atau dalam bahasa Jawa, “Prek neroko!”

      • sulaiman Says:

        Saudara mengatakan*

        Saya yakin Allah Swt memasukkan orang-orang berhati bersih ke dalam surga, sekalipun secara fisik mereka tidak pernah memeluk agama Islam. Kalau Tuhan menuntut ukuran fisik keIslaman sebagai syarat masuk surga atau syarat mendapat pahala, ya saya tidak mau menyembah Tuhan seperti itu.

        Ali Imran [102]……”jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam“.

        Agama rasmi yang diterima Allah hanyalah Islam sahaja. Yang menjadi syarat untuk ke syurga.

        Ali-Imran [19] Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam

        Ali-Imran [85] Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya dan dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi

        Orang yang tidak memeluk agama Islam mana bisa masuk surga. Syarat untuk masuk syurga ialah taat kepada Allah dan Rasul.

        Al-Bukhari meriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “ Semua umat ku akan masuk syurga kecuali orang yang enggan. Baginda ditanya: “ Siapakah yang enggan?” Baginda bersabda : “ Sesiapa yang taat kepada ku ia masuk syurga dan sesiapa yang derhaka kepada ku ia masuk neraka.

        Pada mazhab Syafie, iman itu 3 perkara iaitu –

        * Tasdiq (yakin) pada hati bahawa ALLAH itu tuhan, Muhammad itu rasul dan percaya kepada segala ajarannya
        * Ikrar (ucap dengan lidah / lisan)
        * Beramal dengan anggota

        Manakala pada mazhab Hanafi dan ulama feqah mengatakan bahawa iman itu pada hati sahaja (tidak termasuk ikrar dengan mulut). Dalam Quran ada dinyatakan “orang-orang yang menyembunyikan imannya”. Di dalam kabinet kerajaan Firaun ada orang yang menyembunyikan iman:

        Gafir [28] Dan (pada saat itu) berkatalah pula seorang lelaki yang beriman dari orang-orang Firaun yang menyembunyikan imannya:

        Kedua-dua pendapat bersetuju bahawa iman itu letaknya dihati. Imam Syafie apabila ditanya tentang orang yang menyembunyikan imannya juga mengatakan orang itu tetap Islam.

        Kalimah syahadah bukan sekadar diucapkan pada lidah tetapi ia hendaklah diterima oleh hati manusia bahawa “Allah itu adalah tuhan dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah pesuruhnya”. Walaupun telah sembahyang dan mengucapkan kalimah syahadah di dalam sembahyang, namun ia belum bererti hati itu telah menerima Allah sebagai tuhan. Golongan munafik juga bersembahyang tetapi hati mereka tidak mengakui Allah sebagai tuhan.

        Hanya orang beriman yang akan diselamatkan:
        Yunus [103] Kemudian Kami selamatkan Rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah juga, sebagai kewajipan Kami, Kami selamatkan orang-orang yang beriman (yang menurutmu).
        Ar-Ruum [47]….dan sememangnya adalah menjadi tanggungjawab Kami menolong orang-orang yang beriman.

        Saudara bertanya, Bagaimana kita tahu duit yang kita terima haram atau tidak? Dalam mendapatkan harta, jauhi harta yang diperolehi dengan cara yang haram, penipuan. Rasulullah s.a.w bersabda, jauhi yang mendatangkan kesangsian kepada yang tidak ada syak.

        Dari Abi Abdillah an-Nu’man bin Basyir r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat itu, bererti dia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang melakukan perkara syubhat itu, dia telah jatuh ke dalam perkara yang haram; seperti pengembala yang berada berhampiran dengan batas sempadan kawasan gembalaan (milik orang lain ),dibimbangi (jika dia tidak berundur ke tempat yang lebih selamat )lambat laun dia akan termasuk ke dalamnya (secara tak sengaja ). Ingatlah, bahawa setiap raja ada larangannya dan ingatlah, bahawa larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkanNya. Ingatlah, bahawa dalam jasad itu ada seketul daging, jika dia baik, baiklah jasad seluruhnya; jika ia rosak, rosaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah, bahawa segumpal daging itu adalah hati.( HR al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud )

  3. palangkaraya2008 Says:

    Anda mengatakan, “Agama rasmi yang diterima Allah hanyalah Islam sahaja. Yang menjadi syarat untuk ke syurga.”

    Dalam pendapat saya, tidak seperti di Indonesia yang punya ‘agama resmi’, Allah sudah melampaui ‘rasmi’ atau ‘tidak rasmi.’

    Lalu Anda juga mengutip, “Ali-Imran [19] Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam”

    Baiklah kita anggap saja tidak ada skeptisisme dan tidak ada lagi keraguan. Baiklah kita akui bersama ayat ini membawa kebenaran sejati tak terbantahkan. Tetap saja ketika ‘Islam’ menjadi kata di sini, maka siapa pun yang membacanya menjadi penafsir. Apakah makna ‘Islam’ di sini? Kata bendakah? Kata kerjakah? Kondisi hatikah? Pasrah? Menerima? Damai?

    Bagi saya, menerima Allah sebagai Tuhan pun mengundang interpretasi. Apa maknanya? Apa semata-mata mengganti sesembahan dari Latta dan Uzza menjadi Allah? Apakah memperlakukan Allah SWT sebagai berhala dapat diartikan menerima Allah sebagai Tuhan? Apakah Islam semata-mata hanya meng-abstrak-kan bentuk berhala Tuhan serta mengganti namanya?

    Atau Islam menuntut suatu tatanan hati yang sama sekali berbeda mengenai spiritualisme, dan bukan semata-mata materialisme? Yang pada akhirnya juga menuntut perubahan pola pikir, perubahan dalam ‘bahasa’ dan juga pada tindakan? Pada tatanan sosial, pada tatanan politik?

    Nah di mana inti Islam? Karena rasanya percuma membicarakan batas-batas terluarnya?

    Nah jika Anda mengutip Syafii dan Hanafi, maka tampak bahwa saya lebih bersepakat dengan Hanafi. Saya menolak menyembah Tuhannya Syafii, tapi saya tunduk dan menyembah Tuhannya Hanafi. Tapi apakah Tuhannya Syafii dan Tuhannya Hanafi berbeza? Bagaimana bisa bila Tuhannya sama tapi menuntut dua hal yang berbeda? Yang satu minta tiga hal: hati, ucapan/ikrar, dan perbuatan, sementara yang satu hanya minta satu: hati. Hati belaka.

    Masalah tafsirkah?

    Saya pernah mengunjungi sebuah, katakanlah, suku terasing di daerah terpencil di Papua Nugini, sementara teman saya pernah tinggal bersama suku Inuit di daerah Kutub Utara. Kedua suku ini seumur hidup belum pernah mendengar tentang Islam, Allah Swt, Nabi Muhammad, dan lainnya.

    Pengalaman kami berdua sama, mereka menanyakan agama kami, tentang Islam, lalu saya ceritakan sebisa saya tentang Islam, tentang Allah, tentang Muhammad SAW, tentang kehidupan sesudah mati, tentang surga dan neraka, sejauh yang saya pahami. Saya katakan, itulah yang (lazimnya) diyakini orang Islam.

    Mereka bertanya, apakah ajaran Islam, kewajiban yang diemban orang Islam, serta surga dan nerakanya juga disiapkan untuk orang di luar Islam? Saya kesulitan menjawab itu, sepanjang yang saya tahu, semua orang di dunia sejak Nabi Adam dikenai ‘hukum’ yang sama. Lalu belum sayasempat menjawab, bertanya lagi mereka, “Apakah leluhur kami masuk neraka semua? Karena semuanya bisa digolongkan sebagai kafir?”

    Saya tertegun dengan pertanyaan mereka. Saya tanyakan kepada mereka, “Menurut kalian bagaimana?” Mereka bilang, anehnya, mirip dengan Laa kum dinukum wal yadin. Agamamu ya buat kamu saja, kami sudah punya tatanan sendiri yang cocok untuk kami.

    Dari situ saya belajar tentang sistem kepercayaan mereka. Menurut mereka, “Orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka.” Lantas saya tanya, apa bedanya orang baik dan orang jahat? Bagaimana dengan orang baik yang tidak percaya Tuhan dan orang jahat yang percaya Tuhan? Mana yang masuk surga?

    Mereka jawab, “Tidak perlu percaya atau tidak percaya Tuhan untuk jadi baik atau jahat. Baik ya baik, jahat ya jahat. Yang baik masuk surga, yang jahat masuk neraka.” Ini jawaban yang mengagumkan sekaligus tidak logis, dalam benak saya. Yang punya dan bikin surga siapa kalau bukan Tuhan? Bagaimana kita bisa masuk surga kalau tidak percaya Tuhan?

    Jawab mereka, “Bagaimana pula kau bisa masuk neraka kalau kau tak percaya Tuhan?”

    Saya takjub. Saya segera sadar bahwa saya sama sekali tidak punya hak untuk memonopoli agama. Saya tidak punya secuil pun hak untuk memonopoli Tuhan.

    Semenjak itu saya sadar bahwa sesungguhnya di hati manusia ada pembeda antara yang baik dan buruk. Manusia tahu itu. Barang siapa berkhianat pada hati nuraninya, dia berbuat jahat. Dia akan masuk neraka. Neraka adalah tempat yang dibangun oleh diri seseorang sendiri. Dari tumpukan sampah di hatinya.

    Surga adalah tempat yang dibangun juga oleh hati tiap orang yang tenang dan ridho.

    Mudah-mudahan, inilah yang diajarkan oleh Islam. Inilah yang dimaksud sebagai sebuah transformasi besar-besaran dari materialisme berhala Latta dan Uzza ke spiritualisme Allah.

    Sebagaimana saya belajar dan melihat begitu banyak orang jahat percaya Allah, dan sebaliknya begitu banyak orang baik tanpa pernah percaya adanya Allah, saya menyadari bahwa apa yang selama ini saya cari sebagai zat Allah ternyata adanya di hati saya. Di hati Anda. Di hati semua orang.

    “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan sebagian RuhNya
    ke dalam tubuhmu
    dan Dia menjadikan bagi kamu
    pendengaran,
    penglihatan
    dan hati;
    tapi kamu sedikit sekali bersyukur.”
    Q.S. As Sjadah [32]:9

    • sulaiman Says:

      Tuhan mazhab Syafie dan Hanafi sama aja dong…Bukan Allah yang meletak syarat ini.

      Para imam mujtahid ini mengeluarkan pendapat berdasarkan wahyu Allah.Semua mazhab sepakat iman itu letaknya dihati.

      Perbezaan pendapat Ini rahmat Allah. Ada masanya seorang muslim terpaksa menyembunyikan agamanya.

      Orang jahat yang betul akidahnya masuk syurga, orang baik yang tidak betul akidahnya masuk neraka. Ada saya tulis di sini*

      http://nasbunnuraini.wordpress.com/2008/03/21/bolehkah-unta-masuk-lubang-jarum/

      • palangkaraya2008 Says:

        Saudara Sulaiman mengatakan:
        “Orang jahat yang betul akidahnya masuk syurga, orang baik yang tidak betul akidahnya masuk neraka. Ada saya tulis di sini”

        Bagaimana bisa orang yang ‘betul akidahnya’ menjadi orang jahat?

        Bagaimana orang yang ‘tidak betul akidahnya’ menjadi orang baik?

        Apa guna akidah jika demikian?
        Untuk apa berakidah betul kalau jadi orang jahat, kecuali hanya untuk masuk surga? Bukankah teologi seperti ini yang membuat orang ramai-ramai melakukan pembunuhan atas nama Tuhan, sekalipun membunuh itu adalah perbuatan jahat, yang penting: masuk surga?

      • sulaiman Says:

        Betul akidahnya itu di sini maksudnya betul kepercayaan terhadap Allah, dia yakin Allah berkuasa dan mampu melakukan sesuatu yang mustahil seperti memasukkan unta ke dalam lubang jarum. Yang jahat itu perangainya.

        Kepercayaan dan perangainya adalah 2 benda berbeza.

        Ada orang yang jahat dan akidahnya juga salah.

        Ada orang yang jahat tetapi akidahnya betul, misalnya dia tahu kejahatan itu akan dibalas satu hari nanti.

        Mungkin akidahnya kurang mantap lagi kerana itu dia masih melakukan kejahatan. Dengan kata lain suhu imannya masih lagi rendah. Imannya ada, cuma suhunya masih rendah.

        Bukanlah saya menggalakkan kejahatan. Cuma menunjukkan kemurahan Allah SWT. Orang jahat yang punya iman boleh masih boleh masuk syurga, cuma mungkin dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu untuk membersihkan kejahatannya.

  4. palangkaraya2008 Says:

    Misalkan saya punya iman, dan iman saya kepada Allah. Lalu saya merasa Allah menyuruh saya menyembelih anak laki saya satu-satunya. Lalu karena iman saya, saya sembelihlah anak saya itu.

    Kira-kira, iman saya yang saya ikuti itu akan membuat saya menjadi nabi atau malah ditangkap polisi?

  5. sulaiman Says:

    Saudara tidak akan menjadi nabi kerana kenabian sudah tamat, makanya saudara akan ditangkap polisi.


Kemusykilan atau pertanyaan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: